Tuesday, August 11, 2009

Wide Angle

Jadi tukang potret itu harus pintar cari objek. Cari sudut pandang. Memilih apa yang akan dibingkai. Apa yang perlu dibuang. Apa yang harus memenuhi layar.

Asyik kalau punya kamera dengan lensa wide angle. Bisa memotret panorama, meluas ke samping kanan kiri. Tapi kalau kita beli kamera yang standar, pastilah diberi standar kit. Lensa 50 mili yang fixed, tidak bisa zoom in-zoom out. Fixed. Yang punya kamera model begini, bekalnya adalah berani maju mundur.

Cari yang pas. :)

Mundur, kalau untuk mencari momen yang pas, mencari sudut pandang yang asyik, mendapatkan hasil foto yang bagus, tidak salah, bukan?

Sunday, July 12, 2009

Human Fly

Salah satu khayalan manusia yang tertinggi adalah untuk bisa terbang. Untuk bisa sejauh mungkin lepas dari tanah. Untuk bisa terbang.

Human Fly.

Dari sketsa awal Leo da Vinci yang mirip-mirip helikopter, eksperimen Wright bersaudara yang berbuah hasil pesawat terbang, pendaratan Neil Armstrong di bulan usai meroket dari bumi, sampai lagu legendaris soundtrack Space Jam, I Believe I can Fly-nya R. Kelly.

Semua bermimpi untuk bisa terbang.

It's a bird, It's a plane, It's Superman.

Tengok saja, seorang Superman dengan segenap kemampuan supernya yang bermacam-macam itu, yang paling disorot dan dilabeli super adalah kebisaannya untuk terbang.

I wanna fly, too. :)

Wednesday, July 8, 2009

Bukan arsitek (tur) biasa

Tidak ada yang meragukan kemampuan manusia untuk beradaptasi. Cuaca panas sedikit, tangan akan refleks meraih tombol remote air conditioner. Perut lapar sedikit, jari jemari kita sudah lancar mengetikkan nomor telepon pesan antar restoran terdekat. Merasa bosan sedikit, tak canggung untuk segera online. online. online. Ikut arus deras atau tergilas, begitu mungkin tagline bagi manusia abad 21 yang adaptif. Cerita panjangnya kita simpan untuk kali lain saja.

Manusia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ia tinggali sehari-harinya. Tidak beda dengan hamster yang kemudian terbiasa bermain dengan roda dikandangnya, manusia juga akan membentuk satu kebiasaan yang menandai kesehariannya berada di sebuah lingkungan. Hebatnya manusia, ia punya kemampuan untuk menciptakan lingkungan buatannya sendiri, tidak seperti hamster yang terima jadi. Disitulah arsitek berperan.

Selepas kuliah, sejumlah besar mahasiswa jurusan arsitektur akan menghabiskan sebagian besar dari waktu hidupnya berada di kantor. Sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk, deadlines yang mepet dan berentetan, dan dituntut untuk "work smart, not work hard." (atau bila tidak bisa, maka dipersilakan memperpanjang waktu tinggal di kantor, your choice.)

Dan, kantor, atau studio, thinking room, ruang kelas, atelier (whatever names architects pull out for them), menjadi salah satu ruang yang pasti hadir di keseharian seorang arsitek. Hampir sama pastinya dengan kehadiran ruang-ruang sekolah bagi seorang pelajar, sama jelasnya dengan ruang kelas di kampus bagi seorang mahasiswa yang rajin, dan kantor kecamatan bagi seorang camat.

Dengan jam kerja yang panjang, menjadi penting untuk memiliki ruang kerja yang nyaman. Here's where the story starts.

Saya tidak mengira bekerja di sebuah ruang lapang tak berjendela bisa mengasyikkan. Bayangan terpenjara dan menderita klaustrofobik sudah sempat saya potret dalam lembar imajinasi saya. Bangunan itu terdiri dari dua lantai. Saya bekerja di lantai dua bersama beberapa kolega lainnya. Sudahpun tak berjendela, berbanyak lagi. Sudahpun sempit, panas lagi, demikian pikir saya selintas. 8 jam sehari, bersama banyak orang, yang semuanya sibuk di dalam sebuah ruang tak berjendela, minim cahaya langsung dari matahari, makin membuat saya bak tikus-tikus balap pengejar kesuksesan.

Lantai satu bangunan ini seluruh dindingnya berlapis kaca. Lantai duanya yang tak berjendela itu bak mengambang di udara. A way of defying gravity and claiming ephemerality. Obsesi arsitek sejak era modern, sejak Corbusier memperkenalkan pilotis, sejak Mies meletakkan bangunannya di atas sebuah panggung. Atau sejak nenek moyang kita menghindari gangguan tikus dan binatang garang yang lebih besar dengan membangun arsitektur tradisional kita diatas tiang-tiang? Di luar dibentangkan karpet air yang memantulkan cahaya matahari masuk kedalam relung ruang bangunan ini. Well, it ain't so dark after all.

Ruang yang berjendela mau tak mau memaksa saya untuk rajin-rajin menatap layar monitor, yang mengembara dari satu panel ke panel lainnya. Dari satu program ke program lainnya, dari satu status facebook ke status lainnya, dari teman maya satu ke teman maya dua, dan seterusnya. Perhatian saya terkonsentrasi dengan apa yang ada di depan mata. Fokus.

Ketika saya jenuh, ketika saya lelah, saya akan seperti si hamster yang kemudian bermain bola, saya akan turun kebawah, sejenak minum air putih, dan menikmati karpet air yang terhidang di atas bidang hitam, yang memantulkan bayang-bayang pepohonan tinggi yang mengelilingi bangunan putih sederhana ini.

Arsitektur ini mengubah kebiasaan saya yang asyik berinteraksi melalui interface, dan memilih untuk bertatap muka langsung, face to face, dengan alam sekitar, ketika keadaan mengizinkan. Refreshed, then I'll be ready to get on with the show.

Menyenangkan bisa menjadi orang yang pandai beradaptasi, mungkin akan lebih asyik ketika kita menjadi orang yang menciptakan satu kebiasaan bagi banyak orang lainnya. Mungkin karena itu kita semua masih banyak yang sekolah arsitektur, dan bertekad jadi arsitek. Mau?

Monday, May 4, 2009

Minor complaint

Dalam salah satu sesi pertanyaan wawancara, saya ditanyai,

"Kenapa bekerja di luar negeri? Kenapa negeri singa ini?"

Saya menjawab,

"Cause it will help me to open many doors to my future."

Banyak pintu yang bisa dibuka. Satu peluang emas. Give it or die.

Enam bulan lebih 4 hari kemudian, tepat satu hari setelah batas minimal tinggal untuk dihitung sebagai resident, saya disini, di ruang boarding menatap pesawat saya menuju kampung halaman, menghitung jumlah pintu yang telah saya buka.

Banyak.

An awfully lot.

Umumnya, pintu yang saya buka tiap harinya adalah:
pintu kamar, pintu kamar mandi, pintu apartemen, pintu lift, gerbang masuk m r t, gerbang keluar m r t, pintu kaca menuju kantor, pintu kantor.

8 pintu, jadi sembilan kalau pintu toilet kantor dihitung juga.

Di hari senggang yang jarang, variasi pintu bisa ditambah pintu masuk museum, pintu masuk mal dan pusat perbelanjaan, pintu masuk perpustakaan, dan pintu-pintu menakjubkan lainnya.

Sekarang, mari buka pintu ke petualangan baru, yang lebih menakjubkan, yang lebih menegangkan, yang lebih menyenangkan.

Ketuk dulu pintunya. :)

And I'll fly back home

in another 60 minutes.

Surely i'll miss the utterly convenient life here, how easy people get access to the world wide web, how simple people can go from one place to another.

How 'bout a round of applause...
The curtain to an adventure has been pulled down. And another curtain shall raised.

Because that's how life is. You close a door, another door opens up.
Just don't stop knocking.

Just like that guy Axl Rose from Guns and Roses sang in one of many fabulous hits,

Knock, knock, knocking on the heaven's door.

Knock. knock. who's there?

Faith. :)


Wednesday, April 8, 2009

Omen

Pagi ini saya lembur di kantor.

Tertidur di kursi. (Sebenarnya menidurkan diri. Karena secepat apapun dikerjakan, seorang Superman juga tidak akan bisa menyelesaikannya.)

Mungkin saja, sih, karena dia Superman. Saya bukan. Saya Spider-man wanna be.

Dua lagu pertama yang saya dengar hari ini berlirik,

Last day, sesuatu dari sebuah band rock yang menurut kuping saya suaranya terdengar seperti Chris Daughtry.

Dan yang kedua seperti pertanda.

If you say, what you say you are, a superstar, then have no fear.

Pasti ada alasan dua lagu diatas saya dengar pertama kali saya bangun dari ketertiduran..

Bismillah.

Monday, March 30, 2009

Masa edar

Kali ini kita tulis dan baca yang ringan-ringan saja. Cerita yang saya utarakan kali ini adalah tentang pemain sepak bola idola saya. Bukan, bukan david beckham. Ya, saya suka beckham. Tapi yang saya ingin bicarakan kali ini adalah Andriy Shevchenko.

Pemain sepak bola bernomor punggung tujuh andalan AC Milan bertahun silam. Pindah ke Chelsea dengan alasan unik, ingin belajar bahasa Inggris. Dan kembali lagi ke Milan setelah gagal moncer di Chelsea, hanya untuk menghangatkan bangku cadangan. Tapi sheva tetap sheva.

Ia dikenal ganas sebagai salah satu bomber tersubur Milan, selain van Basten dan Inzaghi -yang eks Juve-. Saat van Basten menjadi contoh bagaimana seorang striker hebat harus menjalani karir pendek karena tebasan tekel-tekel keras para bek Italia -pensiun umur 29 tahun-, Inzaghi menjadi contoh kebalikan dari van Basten. Usianya beranjak ke angka 37, tapi ia tetap bisa mencetak gol. Tidak rutin memang, tapi setiap kali diturunkan, ia setidaknya mampu berkontribusi maksimal. Ia tetap bergelar Super Pippo. Dua gol krusialnya dua musim lalu membawa Milan juara Liga Champions 2007.

Sheva di lain pihak, adalah contoh klasik betapa umur menggerus kemampuan seorang pesepak bola. Ia tak lagi masuk pilihan utama skuad Milan, kalah muda, dan kalah cepat oleh seorang Pato, yang mewarisi nomor punggung kebesarannya. Nomor tujuh, yang sekarang dirasa "kebesaran" untuk disandang seorang pesepakbola yang lewat masa jayanya.

Tapi seorang penggemar tetap berharap banyak pada idolanya. Mungkin sama seperti die hard fans-nya N K O T B berharap mereka come back, atau betapa fans berat Take That menginginkan Robbie Williams mau kembali jadi anggota boy band ini. Saya berharap dia bisa mencetak banyak gol lagi. Setidaknya minggu ini ketika ia menghadapi Inggris.

Atau setidaknya saya berharap ia akan tetap ada di Milan sampai usai karirnya.

Karena buat saya, Milan nomor tujuh adalah Shevchenko. Meski masa edarnya sudah lewat.